WAKTU

 

Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Sebagai contoh: masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus (linier). Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Berbeda dengan masyarakat Barat, masysrakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang terus berulang tanpa akhir.

Untuk mengukur skala waktu yang berlangsung sangat cepat (di dalam dunia elektronika dan semikonduktor), kebanyakan orang menggunakan satuan mili detik (seperseribu detik), mikro detik (seper satu juta detik), nano detik (nanoseconds), piko detik (picoseconds), dst.

Dalam dunia fisika, dimensi waktu dan dimensi ruang (panjang, luas, dan volume) merupakan besaran pengukuran yang mendasar, selain juga massa dari suatu benda (time, length and mass). Gabungan dari waktu, ruang dan massa ini dapat dipakai untuk menceritakan dan menjelaskan misteri alam semesta secara kuantitatif (berdasarkan hasil pengukuran). Misalnya tenaga (energi) dinyatakan dalam satuan ukuran kg*(meter/detik)kwadrat atau yang sering kita kenal sebagai satuan watt*detik atau joule.

HARGAI WAKTU YANG ADA DISETIAP LANGKAH KEHIDUPAN INI
Advertisements

Es Krim penyumbang Gizi Terbanyak

 

Nilai gizi yang terkandung pada es krim sebenarnya sangat memenuhi kebutuhan manusia akan gizi, karena didukung oleh susu, kuning telur, gula serta sedikit maizena sebagai bahan penyusun utamanya. Apalagi jika ditambahkan dengan aneka macam buah-buahan segar sebagai penambah rasa serta dengan rasa yang dinginkan. Es krim memberi asupan protein, mineral, dan vitamin sebagaimana yang terdapat dalam susu dan dan buah-buahan.

Kualitas es krim sangat tergantung dalam kualitas bahan dan proses pembuatannya yang tidak melibatkan panas tinggi. Es krim juga bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit, karena hampir seluruh bakteri patogen tidak tahan dengan pasteurisasi dan pembekuan pada saat pembuatan es krim. Jadi es krim cukup aman dikonsumsi oleh siapa saja terutama anak-anak meskipun dalam jumlah yang berlebih.

Penampilan es krim sudah tidak sederhana lagi seperti jaman dulu, es krim sekarang sudah mewah dalam komposisi bahan dan rasa. Es krim jaman sekarang dibuat dengan campuran susu, gula dan bahan makanan tambahan lainnya dengan kadar lemak yang berbeda.

Lunturnya Permainan Tradisional

This slideshow requires JavaScript.

Bebentengan, Boy-boyan, Sorodot Gaplok, Sondah, Gatrik, Congklak, dsb. Merupakan permainan tradisional khas Jawa Barat. Ragam permaian tradisional yang merupakn ciri khas Jawa Barat tersebut saat ini mulai luntur. Anak pada zaman sekarang lebih memilih PS/PC game, Games di Komputer, board games dll ketimbang permainan tradisional.
“Ah lebih seru main PS,” ungkap Raihan (6). Penyebab utama lunturnya permainan tradisional menurut Kepala Seksi Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, H.Tjep Dahyat, SH, MSi “Adanya pengaruh IPTEK dan perkembangan zaman, sehingga terjadi pergeseran kebudayaan yang menyebabkan permainan tradisional luntur.”
Anak-anak di zaman sekarang bermain cukup duduk manis didepan monitor, berbanding terbalik dengan anak-anak di zaman dahulu bermain diluar rumah, lapangan dan halaman luas. Menurutnya permainan tradisional dan modern memiliki dampak positif maupun negatif terhadap perkembangan anak. “Untuk permaian modern anak akan terbiasa bersahabat dengan teknologi, namun anak bermain secara individu. Untuk permainan tradisional makna dari kejujuran, kepercayaan dan kebersamaan akan tampak dalam permaianan ini,” ungkapnya.
Hadirnya permaianan modern membuat permaianan tradisional terpinggirkan. “Banyak cara untuk melestariakan permainan tersebut. Peranan dari elemen pemerintah, orang tua dan masyarakat menjadi faktor pendukungnya. Sebagai contoh, dilingkungan masyarakat alangkah baiknya pertandingan 17-an diisi oleh permaianan tradisional dalam rangka pelestarian kebudayaan,” tambahnya.
Dalam pelestarian kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menggelar kegiatan tahunan kaulinan budak lembur yang bernama Alim Paido. Kegiatan ini ditujukkan untuk mensosialisasikan permainan tradisional kepada masyarakat.
Kini permainan tradisional semakin luntur dengan hadirnya permainan modern berbau teknologi. Jika kita berfikir untuk melestarikan budaya bangsa, mungkin inilah salah satunya. Melestarikan permainan tradisional, yang notabane-nya acap kali disebut permainan kampung. Sebaiknya ada upaya dari orang-orang tua/dewasa yang pernah mengalami fase bermain permainan tradisional untuk memperkenalkan kembali kepada genersi muda. Mengenalinya kepada generasi muda, lalu mereka akan mencintai dan melestarikannya. Maka lestarilah kebudayaan kita.

Lincah Dan Cekatan Berkat Permainan Tradisional

This slideshow requires JavaScript.

Harus diakui, seiring dengan majunya teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional yang sebetulnya banyak bermuatan rangsangan positif. Bila keadaan ini terus berlanjut, menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi, besar kemungkinan permainan-permainan tradisional itu kelak tak lagi dikenal, apalagi dimainkan oleh anak-anak.

Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, karena biasanya orang tualah yang lupa memperkenalkan permainan di masa kecilnya kepada anak-anak. “Sebaliknya, suatu permainan akan terus bertahan jika kita menurunkannya secara estafet ke anak kita, lalu dari anak kita diturunkan lagi ke cucu kita, dan selanjutnya.”

Mayke juga mengingatkan, imbas permainan modern yang mengandalkan aneka bentuk dan jenis menarik bukan satu-satunya faktor yang mengalahkan pamor permainan tradisional. Jangan lupa, makin sempitnya areal atau lahan tempat anak bermain di alam bebas, serta makin sibuknya anak dalam aktivitas sehari-hari juga membuat permainan tradisional ini makin terlupakan.

Ditambah lagi, stimulus yang anak dapatkan setiap waktu selalu bernuansa modern, seperti pergi ke mal, makan di resto yang menyediakan menu modern, atau belajar dengan memakai sarana komputer. Tak heran bila anak-anak kita, apalagi cucu-cucu kita nanti semakin miskin dalam pengalamannya bermain permaianan tradisional.

ANEKA MANFAAT

Menurut Mayke, permainan modern bisa dengan mudah menggusur permainan tradisional karena bentuknya yang variatif, begitu pula warna dan jenis permainannya. Mendapatkannya juga mudah, bisa dimainkan di mana saja, bisa dilakukan kapan saja (jenis indoor), dan walaupun tanpa teman anak bisa memainkannya dengan seru.

Sementara, hampir semua permainan tradisional harus dilakukan dengan teman, membutuhkan ruang terbuka (outdoor), dan kebanyakan harus dimainkan di arena yang cukup luas. Anak-anak kadang juga harus berusaha dulu sebelum bisa melakukan salah satu permainannya, seperti membuat gambar atau membuat alatnya. Variasi untuk satu jenis mainan pun tidak banyak; penampilannya juga tak semenarik permainan modern.

“Walaupun begitu, permainan seperti engklek, yoyo, congklak, dan petak umpet sebetulnya bisa juga dimainkan di dalam ruangan. Jadi, permainan tradisional pun sebetulnya bersifat fleksibel atau bisa dimainkan di mana saja. Galah asin, misalnya, meskipun lebih seru dimainkan di luar ruang, tapi kalau situasi tidak memungkinkan, bisa saja dimainkan di dalam ruang. Hanya saja tempatnya harus luas, di lapangan bulu tangkis atau aula, misalnya,” urai Mayke.

Karena permainan tradisional umumnya dilakukan berkelompok, maka permainan ini otomatis mengajarkan kebersamaan, seperti dalam gobak sodor atau engklek. Beda dengan permainan berteknologi canggih yang umumnya dimainkan secara individual. “Memang, sih, ada juga permainan tradisional yang bisa dimainkan secara soliter selain bersama teman-teman, seperti yoyo, layang-layang, dan ketapel.”

Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Dengan gerakan-gerakan seperti berlari, berkelit, melompat, atau menaikturunkan tangan, fisik anak pun dilatih secara aktif. Jadi, dengan bermain permainan tradisional anak bisa mengasah kemampuan motorik, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya.

Contoh sederhananya, dalam permainan galah asin, selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang degan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan. Permainan seperti congklak, bahkan merangsang anak menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan poin atau biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu agar bisa mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.

Melihat manfaat-manfaat di atas, menurut Mayke, sebenarnya permainan tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari permainan modern, juga untuk mendapatkan wacana lain yang bisa membuat hidup anak lebih kaya dan berdinamika. “Terlebih, keterampilan fisik mempunyai kaitan erat dengan bekerjanya fungsi-fungsi saraf,” papar Mayke.

Hanya saja, kalau ditanya, permainan mana yang paling baik buat anak, yang tradisional atau yang modern? Menurut Mayke, tidak ada yang lebih baik ataupun lebih jelek. Ia berpendapat antara permainan tradisional dengan permainan modern punya manfaat yang saling melengkapi. Dari permainan modern, anak-anak bisa mendapat rangsangan yang bersifat kognitif, sedangkan yang bersifat fisik, kebersamaan, dan ketangkasan bisa diperoleh dari permainan tradisional.